J A M

Minggu, 28 September 2008

BONDI DAN ANYA

Bondi dan Anya adalah dua orang kakak beradik, Anya lebih tua, tapi tubuh Bondi lebih besar dan tinggi. Mereka satu sekolah, Anya kelas 6 SD sedang Bondi kelas 5 SD. Di sekolah Bondi selalu menjaga dan melindungi kakaknya.

Kegiatan bela diri serta kepramukaan di sekolah selalu diikuti, oleh sebab itu mereka selalu sehat serta baik budi pekertinya.

Mereka pernah menegur temannya ketika hendak mengkatapel seekor burung di pohon.

“ Sedang apa kalian ? “, tegur Bondi.

“ Ah, kamu mau tahu saja Bon ! “, sahut temannya, sambil menyiapkan ketapelnya.

Jangan dong, kasihan kan, burung itu juga ingin hidup ! “, Bondi mengingatkan.

“ Coba kalau kamu yang kena ketapel, sakit nggak ? “, Anya menambahkan.

Di sekolah juga ada teman mereka yang suka sekali mengganggu anak-anak lain.

Bahkan tidak jarang suka nantang berkelahi. Namanya Roni, ia punya geng sendiri.

“ Hei Nya, aku minta rotimu, kalau tidak diberi kupukul nanti ! “, ancam Roni, lalu merebut roti Anya.

“ Jangan Ron, kalau mau masih ada beberapa potong lagi ! “, jawab Anya sambil berusaha merebut kembali rotinya.

“ Ron, apa yang sedang kamu lakukan, jangan ganggu Anya ! “, tiba-tiba Bondi muncul.

“ Kamu mau apa Bon, nantang berkelahi ya ! “, jawab Roni sambil melepaskan tempat roti Anya dan menghampiri Bondi.

Teman-teman lain juga segera berdatangan mengerumuni, ingin tahu apa yang sedang terjadi.

“ Daripada berkelahi, aku punya usul ! “, kata Anya setelah mendapat akal agar tidak terjadi perkelahian.

Lalu Anya menjelaskan, kalau terjadi perkelahian, keduanya pasti akan kena hukuman, tidak peduli mana yang benar atau yang salah.

Lebih baik keduanya bertanding adu kepandaian saja, itu jelas tidak saling menyakitkan.

Roni tahu, keduanya selain pandai juga cerdik, tapi ia tidak mau kalah begitu saja.

“ Siapa takut ! “, jawab Roni dengan pongahnya.

Sebelum pertandingan dimulai dicarikan seorang juri, supaya adil dan tidak curang.

Adu kepandaian dibagi dalam dua babak, babak pertama yaitu menjawab sepuluh soal matematika dengan cepat dan benar. Lalu dilanjutkan dengan teka-teki yang masuk akal, tidak boleh sembarangan. Babak kedua yaitu adu panco.

“ Kalau Roni kalah harus janji tidak akan mengganggu dan berkelahi lagi ! “, kata Anya. “ Kalau Bondi yang kalah gimana ? “, Roni balik bertanya.

“ Aku akan tunduk padamu ! “, jawab Bondi tegas.

Keesokan harinya pada saat jam istirahat pertama di kelas kosong yang telah ditentukan, mereka mulai.

“ Ini ada sepuluh soal matematika, waktunya hanya lima menit, tidak boleh salah, kalian siap ? “, tanya Siska sebagai juri.

Setelah lima menit berlalu, ternyata keduanya sama kuat.

“ Sekarang pertandingan teka-teki, harus diundi dulu, siapa yang duluan ! “, Siska lalu mengundi.

Ternyata giliran pertama adalah Roni. “ Apa yang namanya sama dengan rasanya ? “.

“ Ayo jawab Bon, kamu pasti tidak bisa ! “, Roni mengejek sambil tertawa-tawa.

Sejenak Bondi berpikir keras, lumayan sulit juga neh teka-teki Roni, pikir Bondi.

“ Ah … aku tahu jawabnya, ‘ ASEM ‘, ya asem jawabnya ! “, seru Bondi kegirangan.

Teman-teman lain mulai bersorak, karena pertandingan mulai seru, suasana jadi ramai.

“ Olah raga apa yang tidak mengeluarkan keringat sama sekali ? “, tanya Bondi.

“ Wah, kamu curang Bon, mana ada olah raga tidak berkeringat ? “, Roni berteriak.

Ia ragu bisa menjawab dan berusaha menghindar.

“ Iya neh, Bondi curang ! “, kelompok Roni memberi dukungan ke Roni.

Roni terdiam dan berusaha berpikir keras, tapi semakin berpikir keras ia tidak menemukan jawaban yang tepat. Bahkan kepalanya mulai pusing dan mulai geram.

“ Ayo Ron, waktunya hampir habis ! “, Siska memperingatkan.

Roni nyerah pasrah. “ Apa jawabnya Bon, kalau macam-macam kuhajar nanti ! “.

“ Berenang ! “, jawab Bondi singkat sambil tersenyum tapi tidak mengejek.

“ Hore … hore, Bondi menang ! “, riuh rendah suara teman-temannya kegirangan.

Bersamaan dengan itu bel tanda usai istirahat berbunyi.

Esoknya ketika pertandingan panco, Bondi bisa mengalahkan Roni dengan mudah. Padahal selama ini Roni tidak terkalahkan di sekolah.

“ Tidak bisa, aku tidak mau ! “, Roni tidak mau menerima kekalahannya.

“ Ron, kamu kan sudah berjanji sebelumnya, maka harus ditepati ! “, Siska memperingatkan. “ Kalau Bondi bisa mengalahkan aku dalam berkelahi, aku terima ! “.

“ Aku tidak takut walau kamu bisa karate Bon ! “, sambung Roni lagi.

Bondi berusaha mencari akal agar bisa menghindari perkelahian, apalagi Roni tampak semakin panas dan emosi saja.

“ Ron, aku bisa mematahkan 2 buah bata sekali gus, apa kamu tidak takut ? “, Bondi berusaha menakuti Roni.

“ Aku juga bisa, bahkan 3 buah bata sekali gus ! “, Roni pongah dan merasa tertantang. Wah, celaka, pikir Bondi, anadai Roni melakukan dan tidak tahu caranya, bisa cidera dia, pikir Bondi mulai kuatir.

“ Aduh … aduh … ! “, tiba-tiba Roni berteriak kesakitan sambil menangis.

“ Sini, coba kuliat tanganmu ! “, Bondi langsung memegang tangan Roni dan menolong dengan cara yang diajarkan dalam bela diri yang selalu rajin diikutinya.

“ Lain kali jangan pernah coba-coba lagi kalau tidak tahu caranya juga kalau belum pernah diajarkan serta terlatih pula, bisa cidera dan berbahaya Ron ! “, kata Bondi bijak.

Roni hanya bisa mengangguk lemah, namun dia berjanji dalam hatinya, akan menjadi anak baik dan semua teman sekolah adalah temannya juga bukan untuk diganggu.


Karya : Tungky

November 2000


Diatas adalah cerpen ku termasuk awal kali ku coba menulis atau menuangkan ide cerita dalam bentuk cerpen, coba kalau diperhatikan, masih banyak bahasa yang kupakai sangat sederhana dan bukan gaya percakapan anak-anak jaman sekarang.

Cerpen itu sudah ku kirimkan ke beberapa majalah anak tapi tidak ada tanggapan, mungkin tidak menarik jadi tidak layak tayang, waktu itu aku msh pakai pos kirimnya jadi tidak efisien dalam hal waktu, menurut ku.

Barangkali juga alur ceritanya masih tidak nyambung walau mungkin thema cerita dan isi ceritanya bagus, kambali ini penilaian yang sifatnya sangat subyektif sekali.

Tapi sambil berjalan dengan waktu dan aku tetap menulis hingga saat ini, kurasakan ketrampilan untuk memainkan bahasa, ide cerita juga alurnya semakin bertambah maju atau lebih baik daripada cerpen-cerpen yang kubuat pertama kali.

Cerpen diatas belum pernah dimuat dan kutulis di blog ini sesuai naskah aslinya dan akan ku edit kembali untuk dikirimkan ke beberapa majalah anak.

Sependapatkah anda para pembaca ?

Silahkan beri komentar apa saja, itu jelas masukan untuk ku sendiri, sebelumnya terima kasih banyak yang bisa ku ucapkan ……

Tidak ada komentar:

Maukah Memberi Saran ?

Ada kesalahan di dalam gadget ini